“Bagaimanakah bila
saatnya waktu berhenti tak kau sadari. Masihkah ada jalan bagimu untuk kembali
mengulang masa lalu”. Aah, Pembaca. Seandainya kau tahu perasaan saya ketika
mendengarkan nasyid ini. Suatu saat saya ingin kau pun merasakannya.
Minggu ini
deadline untuk edisi spesial yang benar-benar kejar tayang. Dan kau tahu,
Pembaca. Hari ini Kamis, artinya lusa adalah the last day in this week.
Artinya, saya harus ngebut, padahal tulisan saya baru separo halaman. Aduuh,
gimana nih. Kalo mau cerdas, sebenarnya banyak ide berloncatan di kepala saya,
tapi entahlah, kali ini benar-bener esdete en gecees (baca : susah dituangin
dan gak cerdas sama sekali).
Sebenarnya lagi,
nggak harus saya sih, yang bisa ngisi rubrik yang lagi kukerjakan ini. Tapi
sekali lagi, ini edisi kejar tayang. Selain belum ada naskah yang masuk (sepi
peminat kaliii), susah cari ban serep.
Hahaha.
Rrrrrrrdddd. Hp
saya bergetar, +6281520431322[8]. Nomor tak dikenal. Delapan kali. heran kan,
kenapa bisa nggak kerasa, padahal hp ada di saku. Ah, EGP. Lanjut,
pencet-pencet tuts. Entah sudah berapa kalimat
saya delete tak bersisa.
+6281520431322[2].
Nomor yang sama. Mati sebelum kuangkat. Cuek aja lah. Lanjut pencet-pencet
tuts. Dua paragraf pendek. Lumayan lah. “Allah, help me finishing this,
please..!”, jerit hatiku.
Yaah. Getar lagi
nih hp. Nomor yang begitu saya hafal. Astaghfirullah, tugas baru menanti. “Mba,
kesini sebentar. Lima menit aja. Penting”, kata suara di seberang sana, “Iya,
tapi setengah jam-an lagi ya”, saya menawar. “Assamu’alaikum”, kututup telepon.
(Ah, tadi tak seharusnya salam kujawab dengan istighfar. Jadi malu).
Times after that,
I am really in bad mood. Ketik, delete, ketik, delete, ketik, delete. Just
like that, for several times. Akhirnya mata saya benar-benar berair.
“Cooling down, baby”, bisik hati saya.
Yap, ide cemerlang. Kenapa nggak dari tadi? Kutarik nafas panjang, kuhembuskan
kembali, tarik napas panjang, buang, tarik napas panjang, buang, dst. (Bila
anda sudah menjadi Ibu, pasti deh ingat perjuangan nan melelahkan, dulu, saat
itu).
Pembaca, satu
keberuntungan memang. Saya ditugaskan di dua tempat berbeda, dalam locus yang
berbeda oleh seorang atasan yang sama. Both are full time job. No reason to
refuse, at least for the one year. Saya ambruk di minggu
pertama. Hari-hari berikutnya, terlalu berharga untuk dilewatkan. How come?
Bersyukur saat ini
saya telah bisa menikmatinya. Awalnya saya sempat berpikir, seharusnya double
duties seperti ini diperuntukkan bagi mereka para laki-laki. Bagaimanapun,
pikir saya, mereka lebih mudah beradaptasi, lebih mudah mengatur waktu,
dibandingkan saya, seorang ibu yang masih harus berbagi waktu untuk keluarga
dan beberapa PR yang tidak bisa ditangani Asisten saya di rumah.
Ah, sudahlah. Kutinggalkan
komputer. Keluar ruangan. “Udah, Dik?” seseorang menyapa. “Entar ya, habis
sholat. Insya Allah”, jawabku sekenanya. Padahal, pembaca masih ingat kan, baru
dua paragraf?
Sebenarnya ada
beberapa kenalan yang mungkin bersedia dan terbiasa menulis. Tapi untuk waktu
semepet ini, saya tidak yakin mereka ikhlas mempertaruhkan kualitas tulisan
mereka. Terlebih, bukan kebiasaan saya untuk mundur dari arena. Hahaha. Gengsi
lah yaw.
Usai sholat.
Kembali ke depan komputer. Kupelototi dua paragraf di sana. Kubaca, kupelototi
lagi, berkali-kali. Apa lagi ya......
“Bagaimanakah bila
saatnya waktu berhenti tak kau sadari. Masihkah ada jalan bagimu, untuk kembali
mengulang masa lalu”, kembali terdengar sebuah nasyid dari komputer sebelah.
Ahaa. Alhamdulillah, thanks God”, seru hatiku riang.
Kutekan kembali
tuts-tuts di depanku. Kali ini, subhanallah, begitu lancar. Kata demi kata.
Satu kalimat pun tersusun disitu. Begitu terus. Satu paragraf. Tangan, mata dan
semua organ di kepalaku begitu bersemangat. Ketik, ketik dan ketik. Kuteruskan,
paragraf demi paragraf mulai menyusun makna. Hingga jadilah tulisan ini, meski
tak berjudul. Kesah hatiku telah didengar oleh-Nya. Alhamdulillah. Hatiku
menangis, meski mataku tak lagi berair. Menyesal, kenapa saya harus berburuk
sangka pada-Nya.
Five minutes
remain. Saya harus segera cabut. Buru-buru kuselesaikan tulisan ini. Pembaca, tak
kubayangkan bila tiba-tiba otakku berhenti berpikir, mataku berhenti melihat,
telingaku berhenti mendengar dan
tanganku berhenti menulis. Thanks Allah, You have steer me, remind me always to
mensyukuri Your bless. Astaghafirullah. (UR)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar